Mendadak ‘Gus’, Ansor Kecam Sholihin

0
dpc ppp kota bekasi
REKLAME: Spanduk besar bakal calon walikota Bekasi di Jalan Ahmad Yani Bekasi yang terpampang wajah Ketua DPC PPP Kota Bekasi Sholihin mendapat protes dari GP Ansor Kota Bekasi.

METROBEKASI.CO – Segudang cara yang dilakukan politisi yang berhasrat menjadi kepala daerah dengan mengkampanyekan diri melalui jejaring sosial atau menyebar spanduk dan baligo di titik-titik strategis tidak seluruhnya mendapat simpatik masyarakat, apalagi kampanye yang dilakukan mengandung kontroversi.

Sebagai contoh adalah kampanye yang dilakukan oleh Ketua DPD Partai Golkar Kota Bekasi, Rahmat Effendi yang memanfaatkan jabatannya sebagai Wali Kota Bekasi dengan memasang spanduk raksasa tentang sosialisasi Kartu Bekasi Sehat (KBS). Di dalam iklan layanan masyarakat tersebut, foto Rahmat Effendi tidak didampingi wakilnya yakni Ahmad Syaikhu, sehingga kecaman terhadap iklan tersebut menjadi sorotan semua pihak termasuk DPRD Kota Bekasi. Sebab, Rahmat adalah salah satu calon Wali Kota Bekasi yang akan berkompetisi pada Pilkada 2018.

Selain Rahmat Effendi, terdapat juga kampanye yang menuai kontroversi. Kali ini dilakukan oleh Ketua DPC PPP Kota Bekasi, Sholihin yang menggunakan kata ‘Gus Shol’ dalam iklan bakal calon wali kota pada baligo besar di Jl. Ahmad Yani, Bekasi Selatan.

Sekretaris GP Ansor Kota Bekasi, Hasan menjelaskan bahwa dari segi budaya, pada umumnya panggilan ‘Den Bagus’ atau ‘Gus’ banyak terdapat di pondok pesantren di daerah Jawa. Panggilan Gus menurutnya diberikan kepada anak laki-laki seorang kiyai pengasuh pondok pesantren. Hal itu secara otomatis melekat, tidak perlu orang itu menyebut dirinya sebagai Gus di depan umum.

“Sangat lucu, ketika tiba-tiba seseorang mengenalkan dirinya dengan nama ‘Gus’,” ujar Hasan mencibir ihwal yang dilakukan Sholihin.

“Panggilan Gus, juga melekat pada keilmuan dan kewibawaan seseorang dengan kultur kyai khos di Jawa. Jadi kalau di Kota Bekasi mendadak ada yang mendaklarasikan diri dengan panggilan ‘Gus’, itu kembali ke individunya orang tersebut, apakah dirinya sudah pantas dengan gelar tersebut atau tidak. jangan juga jadi pragmatis nyatut gelar itu untuk kepentingan sesaat jelang Pilkada,” jelasnya.

Hasan mengatakan, masyarakat Kota Bekasi sudah cerdas, sehingga ia yakin masyarakat bisa menilai layak tidaknya Sholihin yang notabene sebagai politisi mencatut sebutan ‘Gus’ dalam kepentingan politiknya.

“Beliau adalah salah satu wakil rakyat yang duduk di DPRD Kota Bekasi. Ini kalau dalam dunia dagang, jualan mangga asem tapi dibilangnya mangga harum manis. Lebih baik biasa-biasa saja biar nanti masyarakat yang memberikan penilaian. Sebab, penilain pribadi yang obyektif itu orang lain yang menilai bukan berdasarkan penilaian pribadi orang itu sendiri,” tandasnya. (lam)

708 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

ika pmii bekasi

Tinggalkan pesan

Masukan komentar Anda
Masukan nama