Islam Itu Ramah Bukan Marah

0
islam itu ramah bukan marah

“Kekuatan Islam terletak pada kelembutannya”, begitu kutipan kalimat Almaghfurlah KH. Hasyim Muzadi yang mencirikan agama mayoritas Bangsa Indonesia ini sebagai agama yang toleran dan penuh kasih sayang.

Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, Islam tidak juga menganjurkan kepada pemeluknya untuk menebar kebencian dan menghancurkan. Tetapi, Islam mengajarkan agar hidup rukun, damai, saling mencintai meski berbeda pandangan dan keyakinan.

Spirit dalam menegakan agama yang ‘Rahmatan Lil’alamin’, menjadi motivasi besar bagi kader muda Nahdlatul Ulama asal Bekasi, yakni Ardiyansyah dalam menukilkan berbagai referensi dan wejangan para alim ulama dalam sebuah buku berjudul “Islam itu Ramah, Bukan Marah”.

Konflik yang tengah mendera Bangsa Indonesia dewasa ini, yaitu radikalisme, menjadi salah satu permasalahan yang menginisiasi terbitnya buku tersebut.

bedah buku islam itu ramah
Ketua PCNU Kota Bekasi, KH. Dzamaksyari AM (kiri) menyerahkan piagam kepada Ardiyansyah (kanan).

Dalam kesempatan ‘Bedah Buku’ yang dihelat oleh GP Ansor Kota Bekasi, Rabu (14/6/2017) sore di Islamic Center, Ardiyansyah mengungkapkan beberapa faktor yang melatarbelakangi tercetusnya semangat dalam meneguhkan Islam Nusantara sebagai Islam yang ramah dan toleran, untuk memerangi arus radikalisme yang tengah menyusup pada ajaran agama Islam.

“Berbagai permasalahan di negeri ini, lahir karena penyesatan pemikrian yang berujung pada kekerasan dan intoleransi. Promotor yang melakukannya adalah pemeluk agama Islam. Ini kontradiksi dengan ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah kepada umatnya,” ujar Ardiyansyah.

Bangsa Indonesia, sambung Ardiyansyah, tengah terombang-ambing oleh arus pemikiran yang tidak bertanggungjawab, terutama bagi umat Islam. Ajaran kebencian terhadap pemeluk agama lain terus digelorakan agar terjadi perpecahan dan konflik seperti di beberapa negara timur tengah.

Akumulasi dari kebencian ialah dengan melakukan jihad seperti yang dilakukan oleh para teroris dengan melakukan aksi bom bunuh diri untuk menghancurkan orang-orang yang dipandangnya kafir. Padahal menurut Ardiyansyah, makna Jihad dalam bukunya adalah bersungguh-sungguh menegakan ‘amar ma’ruf nahyi munkar’ tanpa kekerasan.

“Bangsa Indonesia sedang diarahkan kepada pemikiran yang ekstrem. Mereka disuapi oleh isu-isu konflik yang di impor dari luar negeri, seperti perang yang terjadi di Syuriah, Irak, Afghanistan dan Negara-Negara Islam lainnya. Ini yang menyebabkan gagal paham dan melahirkan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah,” terangnya.

bedah buku ansor
Bedah Buku ‘Islam itu Ramah Bukan Marah’ oleh PC Ansor Kota Bekasi, Rabu (14/6/2017)

Kendati begitu, Ardiyansyah meyakini bahwa Islam Nusantara yang diwariskan oleh para Wali Sanga adalah pilihan tepat dalam menegakkan agama sebagai Islam yang ramah yang menerapkan kedamaian di seluruh dunia.

“Rasul diutus sebagai pemberi rahmat bukan pelaknat dan Islam maju lewat perpustakaan bukan perang,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, beberapa panelis sebagai pembanding yang turut serta hadir adalah Sekretaris PCNU Kota Bekasi, Ust. Ainudin, Ketua GP Ansor Jawa Barat, Deni Ahmad Chaidar, serta Dwinarno aktivis PMII.

Oleh: Handika Nuralam

1,531 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

ika pmii bekasi

Tinggalkan pesan

Masukan komentar Anda
Masukan nama