Cendikiawan Muslim Sebut Perbedaan Agama Itu Indah

0
pena nobar film bidah cinta

METROBEKASI.CO – Komunitas Pemuda Nusantara atau yang akrab disebut PENA, sukses menyelenggarakan Nonton Bareng Film Bid’ah Cinta yang dikemas dengan kegiatan Diskusi Publik tentang film tersebut, Minggu (2/4/2017) di XXI One Bell Park Mall Fatmawati Jakarta Selatan.

Alasan PENA menghelat nobar tersebut, tidak lain dikarenakan Film Bid’ah Cinta menggambarkan tentang indahnya hidup di tengah perbedaan suku, ras dan antar umat beragama, serta cinta terhadap perdamaian.

Nahdira Yahya, selaku ketua pelaksana kegiatan mengungkapkan bahwa PENA memiliki motivasi tinggi terhadap tatanan hidup yang penuh dengan kedamaian, sekalipun perbedaan dari berbagai sisi melekat disetiap individu manusia, baik itu menyangkut keyakinan maupun hal lainnya.

“Kita sangat termotivasi oleh film ini yang memiliki banyak pesan tentang hidup rukun dan damai. Ini selaras dengan salah satu visi PENA yang memperjuangkan perdamaian di Bumi Indonesia. Film ini layak menjadi referensi bagi kita semua,” ujar Nahdira.

Melalui diskusi yang membedah makna film tersebut, PENA berharap seluruh peserta yang didominasi oleh kaum muda itu dapat mengimplementasikan serta menyampaikan pesan tentang pentingnya hidup berdampingan kepada masyarakat luas, meskipun keyakinan satu sama lainnya berbeda.

pena nobar di xxi jaksel“Intinya, semua yang hadir pada hari ini dapat bersama-sama menyampaikan pesan berharga ini kepada masyarakat umum,” harapnya.

Kegiatan yang dihadiri oleh Sutradara Film Bid’ah Cinta, Nurman Hakim, penulis skenario, Ben Sohib dan salah satu artis Ronny Chandra yang berkarakter sebagai H Jamat, serta Cendikiawan Muslim Abdullah Beik yang bertindak sebagai panelis diskusi, menambah antusias seluruh peserta yang mengikuti jalannya kegiatan.

Abdullah Beik mengatakan bahwa dewasa ini Bangsa Indonesia tengah dihadapkan oleh situasi yang sangat pelik, yakni maraknya intoleransi terhadap perbedaan agama. Tentunya ini menimbulkan keprihatinan yang tinggi bagi semua pihak.

Indonesia, kata Abdullah Beik, terdiri dari berbagai suku dan perbedaan agama yang kemudian diikatkan dalam Bhineka Tunggal Ika. Seyogyanya, Falsafah berbhineka yang dianut oleh Bangsa Indonesia menjadi parameter negara lain untuk menjadi contoh tentang keberagaman.

“Kita sadar betul kondisi negeri kita tengah dilanda krisis intoleransi. Disana sini terjadi perdebatan yang kemudian berujung pada pertikaian. Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, apalagi menggoyahkan kebhinekaan Bangsa Indonesia,” sahut Abdullah yang meminta semua pihak dapat memaknai Film Bid’ah Cinta sebagai contoh berkehidupan yang arif dan bijaksana.

“Film ini sangat fantastis. Kita semua bisa belajar dari pesan-pesan yang tersirat dalam film ini. Dan tontonan yang seperti ini lah yang dapat menimbulkan semangat persatuan dan kesatuan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu pula, Abdullah menyerukan kepada PENA dan seluruh pihak yang hadir agar bersama-sama berjuang menciptakan iklim kehidupan yang menerima dan menghargai perbedaan.

Oleh: Handika Nuralam

1,315 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

ika pmii bekasi

Tinggalkan pesan

Masukan komentar Anda
Masukan nama